jump to navigation

Menuju Kebangkitan Indonesia yang Hakiki May 21, 2008

Posted by atusi in Politik.
Tags: , , , , , ,
trackback



ikhwan_4-1.jpg

Ahmad Tusi

Kondisi perekonomian Indonesia saat ini begitu lemah.  Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator, seperti : rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat, rapuhnya struktur industri manufaktur, adanya penguasaan berbagai sektor strategis oleh asing, dan ketergantungan pemerintah terhadap pembiayaan luar negeri yang sangat tinggi. Sementara itu meskipun Pemerintah memiliki anggaran pengentasan kemiskinan yang semakin besar, namun jumlah penduduk miskin tidak berubah.  Kepemilikan asing di instrumen finansial Indonesia juga meningkat tajam. Total pertumbuhan porsi asing di sektor saham, SUN dan SBI adalah meningkat 33% dalam kurun waktu 1 tahun (2006-2007). Pendapatan per kapita Indonesia juga paling lemah di Asia. 

Mengapa Indonesia terpuruk? Hal ini disebabkan beberapa faktor. Pertama, ekonomi bobrok dan dikuasai oleh konglomerat dan asing. Kebijakan ekonomi yang dibuat sekadar menjadi kepanjangan tangan kepentingan asing bukan kepentingan nasional  Strategi dan kebijakan ekonomi dibiarkan untuk disandera oleh lembaga multilateral (Washington Consencus lewat utang luar negeri), korporasi raksasa (lewat investasi, berbagai issue seperti HAM, lingkungan, dll) dan para komprador (lewat undang-undang dan kebijakan). Kedua, akidah umat tidak terjaga. Masalah Ahmadiyah saja dapat diintervensi oleh seorang anggota wantimpres dan tekanan AS, Kanada, Inggris, Australia. Ketiga, generasi muda menuju jurang kehancuran dengan pergaulan bebas, narkoba, dll. Sebagai contoh di Jakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya ada 50% remaja usia 15-24 tahun mengaku pernah berhubungan seksual sejak usia 13-18 tahun, astaghfirulah!. Keempat, pihak asing bebas berkeliaran. Contoh, kasus Namru2 di Departemen Kesehatan, yang merupakan unit Angkatan Laut Amerika Serikat, beroperasi sejak tahun 1970 dengan memiliki kekebalan diplomatik. Meskipun Menteri Pertahanan, Menteri Kesehatan dan Menteri Luar Negeri sudah menyatakan tidak setuju terhadap keberadaan Namru di Indonesia, tetapi MOU antara Pemerintah RI dan Pemerintah Amerika Serikat terus berjalan. 

Perubahan Indonesia tak cukup hanya perubahan rezim atau penguasa.  Selama satu abad kebangkitan Indonesia dan  62 tahun Indonesia merdeka, enam kali terjadi perubahan rezim.  Namun para penguasa tersebut tak mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.  Ini bukan persoalan manusia/penguasanya semata, tetapi juga menyangkut persoalan sistem yang diterapkan.  Sebaik-baik apapun seorang pemimpin, kalau sistemnya buruk, maka ia tidak akan bisa mewujudkan cita-citanya. 

Peradaban Barat menyatakan bahwa dasar kebangkitan adalah kebebasan (liberalisme) dan pemisahan agama dari kehidupan (sekulerisme).  Menurut mereka dengan kebebasan yang ada pada setiap diri dan masyarakat akan melahirkan inovasi, kreativitas, dan daya pikir hingga melahirkan kebangkitan.  Berbeda halnya dengan peradaban Islam.  Kaum Muslim bangkit ketika mengamalkan Islam baik sebagai akidah maupun sebagai sistem kehidupan.  Dengan kata lain, umat Islam bangkit dengan landasan Islam sebagai ideologi (mabda).  Sebaliknya, ketika umat Islam menerapkan sekulerisme dan liberalisme, kemunduran pun mereka alami. 

Kebangkitan atas dasar ideologi kapitalisme dengan sekulerisme dan liberalismenya hanya akan melahirkan kebangkitan semu.  Kebangkitannya hanya sekedar maju secara sains dan teknologi, tetapi jauh dari hakikat kemanusiaan.  Indonesia telah menyatakan bukan negara sekuler, tapi juga bukan negara agama (Islam). Jadi, wajar tidak bangkit-bangkit karena landasan kebangkitannya tidak ideologis. Hanya setengah-setengah.  Jadi, benang merahnya adalah ideologi inilah yang merupakan landasan kebangkitan yang melahirkan sistem kehidupan.   

Menuju Kebangkitan Hakiki 

Pada hakekatnya, manusia akan tetap dalam keterpurukan hingga syariat Islam kembali ditegakkan. Dalilnya adalah al-Qur’an, (surat Al-Baqarah, ayat 143): “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu“. 

Maka sebagai solusi menuju kebangkitan, harus dilakukan dua hal penting. Pertama, melakukan perubahan secara aktif. Terkait Indonesia, umat islam yang merupakan mayoritas di Indonesia sejatinya menjadi pelaku utama dalam membangkitkan Indonesia. Kedua, perubahan diawali dengan apa yang ada didalam diri manusia, yaitu pemikiran dan perasaan.  Karenanya, inti kebangkitan adalah meningkatnya taraf berfikir umat atas atas dasar akidah dan syariat Islam. 

Kita ingin Indonesia menjadi negara besar dan kuat, bebas dari penjajahan dan menjadi pemimpin dunia Islam yang mampu menyatukan umat Islam dunia. Ada pihak yang berteriak tentang kebangkitan Indonesia tetapi menjual kekayaan alam kepada asing. Ada pihak yang lantang meneriakkan kebangkitan Indonesia tetapi meloloskan undang-undang yang menjadikan AS mencengkeram leher kita. Ada pihak yang menyuarakan kebangkitan tetapi membiarkan rakyat dirusak moralnya oleh pornografi dan pornoaksi. Ada pihak yang kesana sini berbicara kebangkitan tetapi membiarkan disintegrasi. Karena itu, maka kebangkitan yang hakiki adalah lepas dari cengkeraman dan penjajahan asing.  

Ringkasnya, kebangkitan hakiki adalah kebangkitan yang landasannya akidah dan syariat Islam (idologi/mabda Islam).  Intinya adalah peningkatan taraf berfikir masyarakat.  Karenanya, upaya membangkitkan umat berarti berupaya untuk mewujudkan kesadaran dan pemahaman dalam tubuh rakyat.

Create a free edublog to get your own comment avatar (and more!)

Comments»

no comments yet - be the first?


*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image