The Power of “Gate” April 25, 2010
Posted by atusi in : Catatan 2C , add a commentWaktu hampir 29 tahun berlalu. Aku terus mengejar dan mengelilingi matahari sebisaku. Aku menyadari.. aku hanyalah serpihan dedaunan kering yang mudah tertiup dan terombang-ambing dengan kekuasaan-Mu melalui pintu-pintu manapun yang Kau inginkan.. trus silih berganti.
Entah..berapa pintu yang dapat aku rasakan dalam diri ini..rasanya sedikit sekali diri ini memasuki Pintu-MU.. Bahkan untuk mengetuk pintu-pun aku tidak sanggup dan berani apalagi untuk memegang handlenya. Gemetar diri ini karena terlalu banyak maksiat kepada Mu. Bagaimana tidak…..? Setiap hari kami disuguhkan dengan iklan-iklan kemaksiatan di mata, telinga, pikiran kami. Di kota besar, kota kecil, desa besar, desa kecil… Anak-anak sekolah jago membuat film mesum dan bertelanjang ria . Pornografi, pornoaksi bergentayangan dimana-mana dan selalu meracuni diri kami. Sistem lah yang telah membuat/memaksa kami menjadi seperti ini. ”Kendaraan Tua” itu telah mengeluarkan kentut syetan yang bertebaran dan berjelaga disetiap hidung kami hingga membuat kami lupa diri. ”Kendaraan Tua” yang telah meracuni Jalan Lurus yang amat indah dan penuh kesejukan dan keindahan yang pernah aku dengar dari para HAMILUD DA’WAH dan buku-buku yang mengatakan ”Jala Lurus telah menguasai dunia 13 abad lamanya dengan menaungi penduduknya dengan penuh kenyamanan dan kesejahteraan bagi penduduknya”.
Dia hanya seonggok ”Kendaraan Tua”, tetapi kenapa kau banyak dipuja dan disayang. Apa keistimewaanmu..? Apa kejantananmu…? Tetapi sepertinya kau Banci, yang takut berhadapan dengan kami secara langsung. Kau lebih suka bermain lewat belakang kami. Lewat uangmu, lewat makananmu, lewat teknologimu, lewat kebaikanmu yang gombal. Selama ini aku mulai menyadari… Siapa dirimu ”Kendaraan Tua”. Lihatlah suatu saat nanti, There is the One who will break down you… Who will close your Evil GATE.
****
Seiring bergantinya waktu tanam dan panen padi ,di ladang dekat rumahku, dari hamparan hijau lalu dengan kehendak-Mu dia dijadikan menguning dan penuh berisi. Alangkah bahagianya melihat Pak Pur dapat memanen hasil ladangnya dengan penuh kegembiraan. Anak-anak, istri, sanak saudara Pak Pur mengangkat ani-ani sambil mengucapkan syukur…ALHAMDULILLAHI RABBIL AALAMIN.. indahnya ciptaan-Mu…
Ini mungkin pemandangan biasa bagi para penikmat… tetapi kalo kita tilik ke belakang bagaimana kehidupannya selama mengerjakan ladang tersebut, tidak ada yang tahu kecuali mereka dan Sang Maha Melihat. Mereka menutup rapat pintu kesedihan dan duka lara kehidupan mereka, tetapi mereka selalu memunculkan pintu kebahagian dengan penuh senyum di hadapan tetangga mereka dengan membagikan hasil panennya kepada yang tidak mampu. Siang mereka berusaha sekuat tenaga, malam mereka berdoa sambil meneteskan air mata untuk memohon pertolongan dan kekuatan.
Demi waktu subuh yang telah datang dan fajar mulai menyinsing.. Demi malam apabila menutupi cahaya siang… Sungguh usaha kita memang beraneka ragam, tinggal usaha mana yang ingin kita arungi dengan ruh yang dipengaruhi oleh kedekatan jiwa kepada Sang Khalik.
Jangan bersedih nadiku… Cobalah ketuk pintu terdalam:
“IF I WERE A PRESIDENT…… Use your hand to open your gate and look your people..What they need?? What they want?? Just simple, Mr. Pur (farmer) : “I want chiep fertilizer and water for my land”. Don’t look and hear your “close friend” or just from your head. People didn’t need your advertising everywhere. So Be a good President for your people. Please.. open your deep gate to us. Verily, your Lord is Ever Watchful.
IF I WERE A TEACHER……. Use your hand to open your gate and look your student.. What they need?? Give them some advice to be a wise boy/girl with the RULES (QUR’AN and AS SUNNAH). Prepare arm them with a good habbit and power to break down the CAPITALISM that made our education was wrong way.
IF I WERE A……. IF I WERE A…..”
So…when you have finished (from your occupation), then stand up for Allah’s Worship (i.e. stand up for prayer) and to your Lord turn (all your intentions and hopes and) your ivocations. Take a simple chapter from your experience that had you passed (Mr. Pur)
2C ,my Friends, you will find the others GATE in your life. The Gate that have power to make your calm, have a spirit for struggle and close with your GOD. And proclaim the Grace of your Lord.
Bandung, April 22, 2010
Ahmad TUSI
Umat Jangan Terkecoh Dengan OBAMA.!! January 21, 2009
Posted by atusi in : Politik , 1 comment so farPresiden terpilih Amerika Serikat Barack Obama sdh dilantik menjadi presiden ke-44. Acara itu berlangsung sangat meriah yang dihadiri sekitar 3 juta orang dari segala penjuru dunia. Acara gegap gempita itu pun disiarkan langsung oleh berbagai stasion televisi termasuk beberapa televisi di Indonesia.
Pelantikan tersebut mendapatkan perhatian yang sangat besar. Bukan hanya dari publik Amerika tetapi juga publik dunia. Ini berarti akan menjadi inagurasi terbesar sedunia. Karena pada pelantikan prediden sebelumnya paling banyak hanya dihadiri sekitar 1,5 juta orang saja.
Tetapi kegembiraan ini akan kita lihat pada pekan-pekan kedepan. Terkait dengan janji-janji Obama dengan perubahan yang lebih baik dengan semboyan Yes We Can terutama menghadapi krisis finansial yang sangat berat dalam sejarah Amerika yang mengakibatkan krisis global ini.
Tetapi ketika ditanya tentang konflik GAZA saja Obama menolak berkomentar atau bahkan enggan untuk berkomentar. Itu saja sudah cukup menunjukkan siapa Obama sesungguhnya. Dia itu tidak memberikan komentar apa-apa, ketika ditanya mengapa diam saja, Dia bilang, saya belum dilantik tetapi setelah dilantik… kata-kata komentar tentang GAZA pada pidatonya pun tidak muncul. Ini berbeda sekali ketika Obama menanggapi kasus teror bom Mumbai. Ia cepat sekali memberi komentar. Ini menunjukan bahwa Obama tidak bisa diharapkan untuk menyelesaikan masalah Timur Tengah. Jadi posisinya sama saja dengan presiden terdahulu.
Bahkan dia akan lebih kokoh lagi mendukung Israel, seperti yang telah ditegaskannya di Forum AIPAC ketika dia kampanye dulu. Dia mengatakan bahwa dia akan mengerahkan segala kekuatan yang dia punya untuk menjaga Israel.
Jadi bila dikatakan bahwa Obama akan membawa perubahan ya, perubahan untuk kepentingan dalam negerinya. Jadi bukan perubahan dalam konteks politik luar negerinya terhadap dunia Islam.
Umat Islam tidak boleh terkecoh. Umat Islam seharusnya melihat apa peranan ideologi politik Amerika dan bagaimana pandangan politik Obama sebagai presiden Amerika. Jadi seharusnya fokusnya di situ. Sebagai presiden Amerika tentu saja dia tidak akan keluar dari khittah dari politik luar negeri Amerika yang akan tetap menjaga dominasi atas berbagai wilayah di dunia ini untuk kepentingan politik dan ekonomi Amerika. Jadi Obama tidak akan berbeda dengan presiden sebelumnya.
Obama akan tetap menjaga dominasi atau politik penjajahan dunia di belahan dunia manapun khususnya terhadap dunia Islam. Dia bisa lakukan dari cara yang halus sampai cara yang kasar sekalipun. Hal itu terlihat dari keputusan dia untuk menarik pasukan Amerika dari Irak tapi kemudian menempatkannya di Afghanistan. Itu menunjukkan bahwa tidak ada perubahan apa-apa. Meski untuk kasus Irak memang ia berbeda dengan Bush tapi secara keseluruhan ya sama saja. []
Inilah Gaya Pemimpin-Pemimpin Arab January 21, 2009
Posted by atusi in : Politik , add a commentBelum lepas dari ingatan kita, bagaimana keras kepala dan keras hatinya para pemimpin Arab melihat tragedi di Gaza Palestina. Mesir yang paling dekat dengan perbatasan Gaza sampai detik ini pun belum dan tidak mau membuka perbatasannya di Raffah. Begitu juga dengan Jordan, mereka secara geografis termasuk yang dekat dengan Gaza, hanya karena terikat perjanjian dengan Israel – mereka tega membiarkan saudara-saudara muslimnya di Gaza terbantai oleh Zionis Israel. Setali tiga uang dengan Arab Saudi, ali-alih menunjukkan sikap yang tegas terhadap aksi holocaust Israel di Gaza, untuk menghadiri KTT di Doha pun mereka enggan.
Mungkin gambar-gambar dibawah ini bisa memberikan penjelasan atas sikap kepala batu nya para pemimpin Arab melihat tragedi di Gaza.
Dari kiri, Raja Abdullah (Saudi), Menlu Arab Saudi, Saud Al-faisal, Raja Abdullah (Jordan), George Bush
Menlu Israel Tzipi Livni bersalaman mesra dengan Presiden Husni Mubarak (Mesir)
Mahmud Abbas (Fattah) berjabat tangan mesra dengan Menlu Israel Tzipi Livni
George Bush, Ehurt Olmert dan Husni Mubarak saling mempersilahkan

Raja Abdullah (Saudi) bergandengan tangan akrab dengan George Bush
Raja Maroko, Muhammad VII bersama Bush
Presiden Afghanistan bersama dengan Bush di Amerika
Jabat tangan mesra Olmert dan Mubarak
Senyum saudara kembar, Ehurt Olmert dan Husni Mubarak
Raja Abdullah (Saudi) saling membalas cium dengan George Bush
Jadi wajar kalau para pemimpin Arab sangat ‘banci’ menghadapi Zionis Israel dan tidak tegas dalam menentang agresi dan holocaust yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza.
Kita berdoa bersama semoga para pemimpin Arab dan semua pemimpin Muslim terbuka hatinya melihat tragedi kemanusiaan ini. Dan semoga mereka tidak lupa dengan firman Allah SWT :
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin…..” (Ali-Imran[3]:28)
Sumber: Eramuslim, dengan beberapa foto tambahan
Insiden Monas, Waspadai Adu-Domba Umat Islam! June 6, 2008
Posted by atusi in : Politik , add a commentPrihatin. Itulah rasa yang ada menyaksikan kondisi umat Islam saat ini. Rakyat tengah mengalami keterpurukan ekonomi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Berbagai penolakan terus terjadi dimana-mana. Pada 1 Juni 2008 siang berlangsung demo penolakan kenaikan BBM di depan Istana Negara Jalan Medan Merdeka Utara yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan dihadiri oleh berbagai ormas. Sebagaimana dimuat berbagai media massa, acara tersebut berlangsung damai. Namun, pada saat yang hampir bersamaan terjadi ’Insiden Monas’, yaitu bentrokan antara Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) dengan massa yang beratribut Front Pembela Islam (FPI) di Lapangan Silang Monas ke arah Jalan Medan Merdeka Selatan. Belakangan dibantah bahwa yang bentrok itu bukanlah FPI melainkan Komando Laskar Islam (KLI).
Berbagai kecaman langsung bermunculan mulai dari Presiden, politisi, dan sebagian tokoh. Reaksi demikian muncul karena adanya pemberitaan tentang aksi kekerasan yang terjadi. Padahal tidak ada asap kalau tidak ada api.
Provokasi
Pakar komunikasi Universitas Hasanuddin, Aswar Hasan, mengatakan, bentrokan antara FPI dan AKKBB adalah efek dari “kekerasan simbolik” yang selama ini terjadi. Aksi-aksi sporadis kalangan liberal–seperti melecehkan MUI dan merendahkan wibawa ulama (ingat pelecehan dan penghinaan Adnan Buyung kepada KH Ma’ruf Amien, tokoh NU dan Ketua MUI di Radio BBC beberapa waktu lalu)–selalu mendapat tempat terhormat di media massa dan TV. “Jadi, sesungguhnya ‘kekerasan simbolik’ itu sudah lama dilakukan kalangan liberal terhadap kalangan Islam yang lain,” ujar Aswar (Hidayatullah.com, 2/6/2008).
AKKBB merupakan kelompok yang giat membela Ahmadiyah. Padahal Ahmadiyah telah dinyatakan sesat oleh berbagai organisasi seperti keputusan Majma’ al-Fiqih al-Islami Organisasi Konferensi Islam (OKI) tahun 1985, Fatwa MUI tentang Ahmadiyah tahun 2005, termasuk Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Bahkan Badan Koordinasi Pengawas Kepercayaan dan Keyakinan Masyarakat (Bakorpakem) pada 16 April 2008 menetapkan Ahmadiyah sebagai aliran yang menyimpang dari Islam. Namun, surat Keputusan Bersama (SKB) tentang pelarangan Ahmadiyah belum juga dikeluarkan oleh Pemerintah. Sementara itu, AKKBB terus berusaha mencegah keluarnya SKB tersebut.
Di tengah situasi psikologis seperti itu, setidaknya sejak 15 Mei 2008, terpampang iklan petisi di situs resmi AKKBB, yang disebar ke berbagai milis, dan akhirnya dirilis di beberapa media massa nasional mulai tanggal 26 Mei 2008. Petisi bertajuk “Mari Pertahankan Indonesia Kita!” itu dikoordinasikan oleh ICRP dan Aliansi Bhineka Tunggal Ika dan disebar di beberapa milis di Indonesia. Sebagaimana diketahui, Aliansi Bhineka Tunggal Ika adalah kelompok yang pernah menggerakkan kalangan lesbian, homo, para pelacur dan penyanyi dangdut untuk menyampaikan sikap penolakan terhadap Rancangan Undang-undang (RUU) Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP). Dilihat dari pendukungnya pun terdiri dari ideolog sosialis, aktivis Ahmadiyah, sebagian warga non-Muslim dan kaum liberal.
Iklan petisi tersebut berisi pembelaan terhadap Ahmadiyah. Bukan hanya itu, petisi itu juga berusaha mengadu-domba umat Islam dengan Pemerintah dengan menyatakan, “Kami menyerukan, agar Pemerintah, para wakil rakyat, dan para pemegang otoritas hukum untuk tidak takut terhadap tekanan yang membahayakan ke-Indonesia-an itu.”
Provokasi terus terjadi. Majalah Tempo edisi 5-11 Mei 2008 menulis, “Kecemasan di mana-mana. Ketakutan merajalela. Majelis Ulama Indonesia harus bertanggung jawab atas semua ini.” Di bagian lain Tempo menulis, “Majelis Ulama sudah selayaknya meminta maaf kepada warga Ahmadiyah. Menjatuhkan fatwa sesat pada aliran itu berarti memberikan lampu hijau kepada gerombolan penyerang Ahmadiyah untuk bertindak anarkistis.“
Ingat, pemilik majalah Tempo adalah Goenawan Mohamad yang juga penggiat AKKBB dan apel akbar. Kalau bukan provokasi terhadap umat Islam, lantas untuk apa tulisan menghina ulama itu?
Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol. Heru Winarko mengatakan kepada media massa pada 1 Juni 2008 bahwa AKKBB menurut rencana hanya berdemo di Cempaka Barat, lalu ke depan Kedubes AS, dan berikutnya ke Bundaran Hotel Indonesia. Di ketiga tempat tersebut polisi sudah menyiapkan pengamanan. Di Monas, mereka tidak meminta pengamanan. ”Tapi, mengapa mereka malah masuk Monas?” ujarnya.
Ada keanehan di sini. Selain itu, Juru Bicara Ahmadiyah Mubarik mengatakan, sebenarnya dia sudah memperkirakan akan terjadinya insiden tersebut. Namun, dia mengaku enggan untuk membatalkan rencana aksinya (Hidayatullah, 2/6/2008).
Bukankah ini berarti pembiaran terjadinya insiden tersebut? Lebih dari itu, seorang anggota AKKBB tertangkap kamera membawa pistol dalam Insiden Monas. Dalam konferensi KLI diputar sebuah video yang memperlihatkan seorang peserta aksi berkaos putih, dengan sebuah pita merah putih di lengan kirinya, sempat mengeluarkan sebuah senjata api. (Hidayatullah, 2/6/2008). Lebih dari itu, menurut pengakuan peserta dari FPI, ada provokasi dari panitia (Detik.com, 3/6/2008).
Berdasarkan hal tersebut, benar apa yang dikatakan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amidhan bahwa insiden di Silang Monas tersebut tidak serta-merta kesalahan massa beratribut FPI saja. Amidhan menilai apa yang selama ini dilakukan AKKBB juga amat provokatif alias memancing-mancing kemarahan umat Islam. Salah satunya adalah tindakan AKKBB yang menyertakan wakil-wakil agama lain selain agama Islam untuk ikut-ikutan membela kelompok sesat Ahmadiyah (Eramuslim, 2/6/08).
Pertanyaannya adalah mengapa Pemerintah dan DPR begitu sigap bersikap dalam insiden tersebut tetapi cenderung abai terhadap SKB pelarangan Ahmadiyah? Kalau terhadap mereka yang luka fisik dalam insiden Monas pemerintah dengan sigap bereaksi, tentu saja seharusnya pemerintah lebih sigap lagi terhadap persoalan Ahmadiyah yang telah menodai ajaran Islam dan melukai perasaan jutaan umat Islam.
KH Hasyim menyatakan, “Sebenarnya, masalah Ahmadiyah ini bukan masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan, tetapi masalah penodaan agama tertentu, dalam hal ini adalah Islam.” Beliau juga menyesalkan sikap Pemerintah yang tidak tegas terhadap persoalan Ahmadiyah. (Republika.co.id, 3/6/2008).
Rois Syuriah PWNU Jawa Timur, KH Miftahul Akhyar, juga menyatakan insiden Monas membuktikan SKB Ahmadiyah mendesak dikeluarkan (RCTI, 3/6/2008).
Menghancurkan Islam
Melihat pola masa lalu, insiden seperti ini akan melahirkan beberapa hal.
Pertama: pengalihan isu. Semula isu yang dominan adalah tuntutan kenaikan harga BBM dan pembubaran Ahmadiyah yang telah dinyatakan menyimpang oleh Bakorpakem. Kini, isu seakan bergeser menjadi isu pembubaran ormas Islam tertentu. Ketua Lembaga Penyuluh Bantuan Hukum PBNU, M Sholeh Amin mengingatkan jangan sampai pengalihan isu demikian dibiarkan. (Republika.co.id, 3/6/2008).
Kedua: stigmatisasi ormas Islam. Dari banyak komentar dan opini media massa digambarkan betapa buruknya wajah kaum Muslim yang sebenarnya justru membela kemurnian akidahnya.
Ketiga: menghancurkan organisasi Islam yang memperjuangkan syariah Islam dan secara terbuka menentang pornografi-pornoaksi, dan kemungkaran. Lihatlah, pasca Insiden Monas, Adnan Buyung Nasution dan Goenawan Mohamad menuntut pembubaran beberapa ormas Islam yang tidak terkait sama sekali dengan insiden tersebut. Bahkan mereka mendesak Menteri Hukum dan HAM untuk mengajukan permohonan ke pengadilan lalu meminta hakim untuk membubarkan Majelis Ulama Indonesia (Hidayatullah.com, 2/6/2008).
Tuntutan serupa pernah dilontarkan saat Munas MUI mengeluarkan fatwa haramnya sekularisme, liberalisme dan pluralisme; bahkan saat isu pornografi-pornoaksi. Padahal MUI tidak terlibat dalam insiden tersebut.
Jadi, yang sedang terjadi sebenarnya adalah upaya membungkam orang dan organisasi yang secara tegas menyuarakan Islam. Lantas siapa yang diuntungkan? Tentu, mereka yang tidak menginginkan Islam kuat dan mereka yang tidak menginginkan Indonesia kuat. Mereka ingin putra-putri negeri Muslim terbesar ini terus porak-poranda. Mereka yang diuntungkan adalah kaum kafir imperialis dan para kompradornya. Menarik dicatat, sebagian tokoh pendukung Ahmadiyah itu adalah para tokoh penting di balik Reformasi 1998 yang mendapat bantuan dana 26 juta dolar AS dari USAID untuk menjalankan agenda AS. Bantuan dana ini dapat dilihat dalam The New York Times (20 Mei 1998). Bahkan, salah satu rekomendasi The Rand Corporation dalam menundukkan Islam adalah mencegah aliansi antara kaum tradisionalis dan kaum fundamentalis. Caranya adalah dengan mengadu-domba.
Karena itu, sungguh bijak pernyataan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi yang menyesalkan penggunaan dan pelibatan nama NU dan kelompok NU dalam masalah ini. “Karena relevansinya tidak ada antara NU dan Monas, NU dan FPI. Tapi, kenapa lalu ditulis korban itu adalah orang NU?” ujarnya. Oleh karena itu, KH Hasyim mengingatkan pihak-pihak yang ingin menggiring NU, terutama badan otonom NU seperti GP Ansor, Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa, Lakpesdam NU agar menghentikan provokasinya. (Detik.com, 3/6/2008).
Wahai kaum Muslim:
Hendaknya kita tidak mudah terprovokasi dan diadu-domba oleh kafir penjajah yang memang sangat ingin memecah-belah kesatuan umat Islam. Kita pun jangan sampai terdorong untuk memprovokasi dan mengadu-domba sesama Muslim karena Rasulullah saw. bersabda:
«لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ نَمَّامٌ»
Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu-domba (Mutaffaq ‘alaih).
Rasulullah saw. teladan kita pun telah mengingatkan, bahwa umat Islam tidak akan pernah hancur oleh kekuatan luar yang berasal dari musuh-musuh Islam, kecuali ketika kita sudah saling menghancurkan satu sama lain:
«وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي ِلأُمَّتِي أَنْ لاَ يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ َلا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لاَ يُرَدُّ وَإِنِّي أَعْطَيْتُكَ ِلأُمَّتِكَ أَنْ لاَ أُهْلِكَهُمْ بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ َلاَ أُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ مَنْ بَيْنَ أَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا»
Sungguh, aku telah memohon kepada Tuhanku bagi umatku agar mereka tidak binasa karena wabah kelaparan dan agar musuh dari kalangan selain mereka sendiri tidak dapat menguasai mereka hingga masyarakat mereka terjaga. Sungguh, Tuhanku kemudian berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya jika Aku telah menetapkan suatu putusan maka putusan itu tidak dapat ditolak. Sungguh, Aku telah memberimu bagi umatmu bahwa mereka tidak dibinasakan oleh wabah kelaparan dan musuh selain dari kalangan mereka tidak dapat menguasai mereka sehingga masyarakat mereka terjaga sekalipun dikepung dari berbagai penjuru, hingga mereka saling menghancurkan satu sama lain dan saling menawan satu sama lain.” (HR Muslim).
Untukmu Palestina May 27, 2008
Posted by atusi in : Catatan 2C , 5 comments
Sebuah gambaran fakta kekejaman Israel (kaum Yahudi) terhadap kaum Muslim, yang telah memisahkan Ayah Ibu dengan Anak-anaknya. Digambarkan dalam sebuah syair:
(Sebuah renungan bagi kita semua, setelah saya melihat melihat film Fakta Kekejaman Israel Terhadap Kaum Muslim di Palestina)
Ayah…kata mereka (Yahudi) engkau seorang penjahat
Padahal sebenarnya engkau bukan seorang penjahat
Ayah…!! Mengapa mereka menjauhkan Engkau dariku
Mereka menangkapmu tanpa memberi kesempatan
Untuk menciumku walaupun hanya untuk sekali saja
Atau untuk mengusap air mata ibu
Ibu…!! Aku melihat air mata di kelopak matamu di setiap pagi,
Apakah Palestina tidak berhak diberi pengorbanan…?
Setiap hari aku bertanya pada Matahari
Ibu.., Apakah Ayah akan kembali pada suatu hari
Ataukah dia akan pergi selamanya sampai hari kiamat
Atau dia akan mengusap air mata ibu yang terus menetes setiap hari..?
Wahai ayah dimanakah engkau..?
Ooohh bayi-bayi yang dijajah..
Kini telah datang hari raya baru menggantikan hari raya tahun lalu
Dan bayi baru pun terlahir setelah bayi yang itu,
Dan para Syuhada berguguran setelah gugurnya Syahid yang lalu
Sedang ayah masih disembunyikan dibalik jeruji besi
Dalam sel yang mengerikan yang tidak layak dihuni oleh manusia
Mana hari kemenangan dan kehancuran penjara-penjara besi itu..?,
Malulah kalian……
Malulah kalian……
Malulah kalian……
Aku ingin Ayah pulang.
Aku ingin Ayah pulang.
Aku ingin Ayah pulang.
Wahai kaum Muslim dan para pemimpin negeri-negri Muslim, Apakah engkau hanya terduduk diam saja melihat hal ini…?? Apakah kita sudah cukup dan rela diatur oleh sistem Kapitalisme yang telah membuat diri kita tercerai berai dengan ikatan Nasionalisme??
Mari kita tegakkan daulah Khilafah Islamiyyah, mengapa harus dengan Daulah Islam… karena dengan inilah Aqidah Islam akan tetap terjaga, dengan inilah kehormatan seorang Muslim terjaga, dengan inilah Islam akan jaya dan mulia serta diridhai oleh Allah swt. Dan yang pasti, masalah Palestina dan yang lainnya akan terselesaikan dan kembali kedalam pangkuan seorang Ibu. Ibarat seorang anak yang dekat dengan seorang Ibunya akan merasa nyaman dan tentram bersamanya. Siapakah Ibu itu…? Jawabnya adalah Khilafah Islamiyah (Negara Islam) Ò. 2C
Menuju Kebangkitan Indonesia yang Hakiki May 21, 2008
Posted by atusi in : Politik , add a comment
Ahmad Tusi
Kondisi perekonomian Indonesia saat ini begitu lemah. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator, seperti : rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat, rapuhnya struktur industri manufaktur, adanya penguasaan berbagai sektor strategis oleh asing, dan ketergantungan pemerintah terhadap pembiayaan luar negeri yang sangat tinggi. Sementara itu meskipun Pemerintah memiliki anggaran pengentasan kemiskinan yang semakin besar, namun jumlah penduduk miskin tidak berubah. Kepemilikan asing di instrumen finansial Indonesia juga meningkat tajam. Total pertumbuhan porsi asing di sektor saham, SUN dan SBI adalah meningkat 33% dalam kurun waktu 1 tahun (2006-2007). Pendapatan per kapita Indonesia juga paling lemah di Asia.
Mengapa Indonesia terpuruk? Hal ini disebabkan beberapa faktor. Pertama, ekonomi bobrok dan dikuasai oleh konglomerat dan asing. Kebijakan ekonomi yang dibuat sekadar menjadi kepanjangan tangan kepentingan asing bukan kepentingan nasional Strategi dan kebijakan ekonomi dibiarkan untuk disandera oleh lembaga multilateral (Washington Consencus lewat utang luar negeri), korporasi raksasa (lewat investasi, berbagai issue seperti HAM, lingkungan, dll) dan para komprador (lewat undang-undang dan kebijakan). Kedua, akidah umat tidak terjaga. Masalah Ahmadiyah saja dapat diintervensi oleh seorang anggota wantimpres dan tekanan AS, Kanada, Inggris, Australia. Ketiga, generasi muda menuju jurang kehancuran dengan pergaulan bebas, narkoba, dll. Sebagai contoh di Jakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya ada 50% remaja usia 15-24 tahun mengaku pernah berhubungan seksual sejak usia 13-18 tahun, astaghfirulah!. Keempat, pihak asing bebas berkeliaran. Contoh, kasus Namru2 di Departemen Kesehatan, yang merupakan unit Angkatan Laut Amerika Serikat, beroperasi sejak tahun 1970 dengan memiliki kekebalan diplomatik. Meskipun Menteri Pertahanan, Menteri Kesehatan dan Menteri Luar Negeri sudah menyatakan tidak setuju terhadap keberadaan Namru di Indonesia, tetapi MOU antara Pemerintah RI dan Pemerintah Amerika Serikat terus berjalan.
Perubahan Indonesia tak cukup hanya perubahan rezim atau penguasa. Selama satu abad kebangkitan Indonesia dan 62 tahun Indonesia merdeka, enam kali terjadi perubahan rezim. Namun para penguasa tersebut tak mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Ini bukan persoalan manusia/penguasanya semata, tetapi juga menyangkut persoalan sistem yang diterapkan. Sebaik-baik apapun seorang pemimpin, kalau sistemnya buruk, maka ia tidak akan bisa mewujudkan cita-citanya.
Peradaban Barat menyatakan bahwa dasar kebangkitan adalah kebebasan (liberalisme) dan pemisahan agama dari kehidupan (sekulerisme). Menurut mereka dengan kebebasan yang ada pada setiap diri dan masyarakat akan melahirkan inovasi, kreativitas, dan daya pikir hingga melahirkan kebangkitan. Berbeda halnya dengan peradaban Islam. Kaum Muslim bangkit ketika mengamalkan Islam baik sebagai akidah maupun sebagai sistem kehidupan. Dengan kata lain, umat Islam bangkit dengan landasan Islam sebagai ideologi (mabda). Sebaliknya, ketika umat Islam menerapkan sekulerisme dan liberalisme, kemunduran pun mereka alami.
Kebangkitan atas dasar ideologi kapitalisme dengan sekulerisme dan liberalismenya hanya akan melahirkan kebangkitan semu. Kebangkitannya hanya sekedar maju secara sains dan teknologi, tetapi jauh dari hakikat kemanusiaan. Indonesia telah menyatakan bukan negara sekuler, tapi juga bukan negara agama (Islam). Jadi, wajar tidak bangkit-bangkit karena landasan kebangkitannya tidak ideologis. Hanya setengah-setengah. Jadi, benang merahnya adalah ideologi inilah yang merupakan landasan kebangkitan yang melahirkan sistem kehidupan.
Menuju Kebangkitan Hakiki
Pada hakekatnya, manusia akan tetap dalam keterpurukan hingga syariat Islam kembali ditegakkan. Dalilnya adalah al-Qur’an, (surat Al-Baqarah, ayat 143): “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu“.
Maka sebagai solusi menuju kebangkitan, harus dilakukan dua hal penting. Pertama, melakukan perubahan secara aktif. Terkait Indonesia, umat islam yang merupakan mayoritas di Indonesia sejatinya menjadi pelaku utama dalam membangkitkan Indonesia. Kedua, perubahan diawali dengan apa yang ada didalam diri manusia, yaitu pemikiran dan perasaan. Karenanya, inti kebangkitan adalah meningkatnya taraf berfikir umat atas atas dasar akidah dan syariat Islam.
Kita ingin Indonesia menjadi negara besar dan kuat, bebas dari penjajahan dan menjadi pemimpin dunia Islam yang mampu menyatukan umat Islam dunia. Ada pihak yang berteriak tentang kebangkitan Indonesia tetapi menjual kekayaan alam kepada asing. Ada pihak yang lantang meneriakkan kebangkitan Indonesia tetapi meloloskan undang-undang yang menjadikan AS mencengkeram leher kita. Ada pihak yang menyuarakan kebangkitan tetapi membiarkan rakyat dirusak moralnya oleh pornografi dan pornoaksi. Ada pihak yang kesana sini berbicara kebangkitan tetapi membiarkan disintegrasi. Karena itu, maka kebangkitan yang hakiki adalah lepas dari cengkeraman dan penjajahan asing.
Ringkasnya, kebangkitan hakiki adalah kebangkitan yang landasannya akidah dan syariat Islam (idologi/mabda Islam). Intinya adalah peningkatan taraf berfikir masyarakat. Karenanya, upaya membangkitkan umat berarti berupaya untuk mewujudkan kesadaran dan pemahaman dalam tubuh rakyat.
KEMBALIKAN KEKAYAAN MILIK RAKYAT May 21, 2008
Posted by atusi in : Politik , add a comment(kritik terhadap PP No. 02/2008)
Ahmad Tusi
Peraturan perundangan di negara manapun selalu dibuat manusia dengan mindset (pemikiran mendasar) di dalam benaknya. Pemikiran mendasar ini bisa dipengaruhi oleh banyak faktor seperti keyakinan (ideologi/agama), pengalaman, pengetahuan (literatur), dan juga bisa kepentingan baik pribadi, keluarga, kelompok, rakyat banyak ataupun asing. Begitupun dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 02 Tahun 2008 memiliki dasar pemkiran tertentu.
Kontroversi PP yang disahkan oleh Presiden pada bulan Pebruari lalu menambah permasalahan baru di negeri ini. Coba kita perhatikan pendapat presiden Susilo Bambang Yudhoyono : “PP No 2 Tahun 2008 tidak dimaksudkan untuk merusak hutan lindung. PP tersebut justru untuk meningkatkan kontribusi kepada negara dari 13 perusahaan tambang yang sudah berada di kawasan hutan lindung” (Kompas, 23/02/2008). Mensesneg Hatta Rajasa usai penanaman pohon di Tol Cipularang mengatakan bahwa “Kalau nggak ada PP, mereka tetap kerja di situ dan pemerintah nggak dapat apa-apa,” Minggu (24/2/2008). Menhut MS Kaban kepada wartawan di Bandara Polonia Medan, Jumat (14/3) malam mengatakan : “Ijin dari pemanfaatan hutan produksi dengan pemberlakuan PP itu bisa menambah penerimaan negara dari sektor non pajak diperkirakan Rp 600 miliar hingga Rp 1 Triliun,”.
Apa yang diungkapkan oleh presiden dan para pembantunya di atas, dapat ditarik benang merah bahwa pemerintah ingin meningkatkan kontribusi pendapatan negara dengan jalan melegalkan penyewaan hutan lindung melalui sebuah peraturan. Peraturan ini muncul karena dilatarbelakangi oleh banyaknya pertambangan/usaha-usaha di kawasan hutan dan negara tidak memperoleh apa-apa dari kegiatan tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Mensesneg. Jadi, sesungguhnya permasalahannya adalah banyaknya kegiatan penambangan dan usaha-usaha produksi liar yang bersifat non-kehutanan di kawasan hutan.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Dimanakah peran negara selama ini dalam menjaga kawasan hutan? Apa yang telah dikerjakan aparat dan birokrasi pemerintah (baik daerah dan pusat) selama ini? Jika mengurusi dan memelihara kawasan hutan saja sudah tidak mampu, apalagi mengurusi rakyatnya. Solusi yang diberikan pemerintah dengan mengeluarkan PP ini sama sekali tidak tepat dan ngawur, itu sama artinya pemerintah telah menggadaikan lingkungan dan mengabaikan kepentingan rakyat.
Bencana yang menimpa masyarakat selama ini, nampaknya belum memberikan pelajaran bagi pemerintah. Banjir, tanah longsor, kekeringan, dan bencana lainnya yang terjadi setiap tahun merupakan akibat dari rusaknya kawasan hutan di negeri ini akibat keserakahan manusia.
Pemerintah seharusnya tegas dalam menindak kegiatan-kegiatan illegal logging, kegiatan-kegiatan illegal di kawasan hutan, selain itu pemerintah harus mengelola sumberdaya alam ini sebaik-baiknya untuk kesejahteraan dan keselamatan rakyat bukan sebaliknya (bencana yang diterima) atau bahkan hanya penerimaan negara yang bertambah Rp. 1 triliun dari penyewaan hutan lindung. Seandainya pemerintah memiliki kemauan yang tulus dan kuat untuk mensejahterakan rakyatnya dengan mengelola sumberdaya alam yang ada, tentu bukan hanya Rp. 1 triliun yang akan didapat, tetapi lebih dari pada itu.
Presiden mungkin dapat mengatakan bahwa PP ini tidak dimaksudkan untuk merusak hutan. Tengoklah kerusakan Papua oleh Freeport. Penambangan emas di Puncak Jaya Wijaya oleh Freeport and Co. mampu meraih total pendapatan US$ 4,2 miliar pada tahun 2005. Ironisnya, 50% penduduk kabupaten Jaya Wijaya hidup di bawah garis kemiskinan; 35% diantaranya hidup di daerah pembuangan (tailing) yang penuh dengan zat berbahaya. Tidak hanya itu, indeks pembangunan manusia Papua dengan indikator kesehatan dan pendidikan menduduki peringkat 27, nomor urut lima terbawah di Indonesia (Walhi, SCTV, 21/11/2006). Papua tidak sendiri, eksploitasi kayu di Kalimantan Timur dengan produksi sekitar 5 juta meter kubik per tahun. Sebagaimana diberitakan dalam Kompas (13/07/2003) produksi batubaranya sekitar 52 juta meter kubik per tahun. Produksi emasnya pernah mencapai 16,8 ton setahun serta perak lebih dari 14 ton pertahun. Bagaimana dengan kondisi rakyatnya? Jauh dari sejahtera. Dari jumlah penduduk yang ada, 313.040 atau 12,4 persen tergolong penduduk miskin. Kemiskinan itu merata hampir di semua kota dan kabupaten. Bukan hanya itu, fasilitas kesehatan dan pendidikan juga masih sangat terbatas.
Jelas sudah, bahwa pemberian ijin perusahaan-perusahaan asing yang ada di negeri ini fokusnya hanyalah bagaimana cara agar produksi meningkat tajam dan keuntungan meningkat bagi perusahaan mereka saja. Kalaupun ada program pemberdayaan masyarakat dan pembangunan daerah sekitar industri, itu kecil sekali. Ingatlah, hanya secuil yang masuk negara, kebanyakan masuk ke perusahaan asing. Maka PP 02/2008 ini dan produk perundang-undangan lainnya (UU Migas, UU Sumberdaya Air, dll) tersebut jelas sangat liberal yang sarat kepentingan asing bukan untuk kepentingan rakyat.
Lahirnya PP No. 02/2008 ini merupakan bukti buah dari pemikiran mendasar yang dianut oleh pemerintah dalam mengelola negeri ini, yaitu ideologi kapitalisme. Dimanapun ideologi ini diemban, tidak akan pernah sedikitpun berpihak kepada rakyat tetapi hanya berpihak kepada kaum pemilik modal (dalam hal ini perusahaan), kelompok, dan kepentingan asing. Negeri ini sudah menjadi negara korporasi yang hanya memikirkan bagaimana mendapatkan keuntungan dengan melupakan kesejahteraan dan keselamatan rakyatnya, lingkungan, dan moral bangsanya.
Tentu saja ada kekeliruan dari pengelolaan kekayaan alam di negeri kita, terutama yang dalam Islam masuk dalam sektor kepemilikan umum seperti emas, perak, timah, minyak, gas dan batubara. Kebijakan ekonomi Indonesia yang berbasis kapitalis telah memberikan sumbangan paling besar bagi kondisi di atas. Selama ini sektor kepemilikan umum lebih banyak diserahkan kepada perusahaan multinasional/asing. Akibatnya, hasil kekayaan alam yang seharusnya kalau dikelola langsung oleh negara bisa digunakan untuk rakyat, disedot oleh perusahaan asing. Keuntungan pun sebagian besar untuk perusahaan asing.
Bayangkan dalam kasus Freeport, Indonesia hanya mendapat royalti sekitar 9,4% plus pajak. Padahal total pendapatan Freeport pada tahun 2005 US$ 4,2 miliar dolar dengan kontrak karya sampai 2041 (Kompas, 21/11/2006). Sementara itu PT Newmont Nusa Tenggara Batu Hijau mendapat 45% dengan cadangan emas 11,9 juta ons. Setoran ke Pemerintah adalah US$ 35,90 juta setiap tahun. Padahal kalau dikelola langsung oleh negara, keuntungan yang diperoleh akan jauh lebih besar. Bukan dengan cara menyewakan lahan hutan lindung dengan tarif yang harus dibayar oleh pengguna sebesar Rp 300 per meter persegi atau Rp 3 juta per hektar. Dalam Islam, menyewakan tanah saja sudah haram, apalagi kalau tanah itu adalah hutan lindung. Penulis tidak terbayang, bencana apalagi yang akan menimpa negeri ini.
Dengan seluruh potensi pendapatan di atas, jika semuanya dikelola oleh negara, problem defisit anggaran negara yang selama ini terus terjadi akan terselesaikan dengan tuntas. Walhasil, mengembalikan kepemilikan umum kepada rakyat tidak bisa ditunda lagi. Islam pun dengan tegas menggariskan kebijakan ini, bahwa kepemilikan umum adalah milik rakyat yang harus dikelola oleh negara secara baik untuk kesejahteraan rakyat. Semoga!.
Nasi Aking Penyambung Hidup May 21, 2008
Posted by atusi in : Politik , add a commentAhmad Tusi
Fenomena nasi aking yang dikonsumsi oleh rakyat Indonesia yang terjadi di beberapa daerah akhir-akhir ini tetap saja tidak menjadikan pemerintah pusat dan daerah bergeming dan prihatin, malah ditanggapi sebagai bentuk kebiasaan sehari-hari. Mereka lupa, bahwa nasi aking adalah simbol kemiskinan. Nasi aking adalah makanan yang berasal dari sisa-sisa nasi yang tak termakan yang dibersihkan dan dikeringkan di terik matahari. Nasi aking biasanya dijual sebagai makanan unggas. Tetapi belakangan masyarakat pun mulai mengkonsumsi nasi aking. Nasi aking bukanlah makanan yang layak dikonsumsi manusia, berwarna coklat dan dipenuhi jamur. Namun, masyarakat kelas bawah menjadikannya sebagai makanan pokok pengganti nasi karena tak mampu membeli beras. Untuk menghilangkan bau, nasi aking terlebih dahulu dipisahkan dari kotoran, dicuci, dijemur, lalu diberi kunyit untuk mengurangi rasa asam akibat jamur yang tertinggal.
Di beberapa daerah, sebagian masyarakat tak bisa makan dengan cukup karena daerahnya terlanda bencana. Mereka terisolasi, pasokan pangan terhambat dan birokrasi mati. Di Serang, seorang wakil walikota menanggapi rakyatnya di Kecamatan Kasemen, Serang Banten, yang makan nasi aking sebagai bentuk kebiasaan (Trans7, 31/03/08). Sedih melihat prilaku para pemimpin dan wakil rakyat kita, yang ketika masa kampanye menghambur-hamburkan uang milyaran rupiah serta mengatasnamakan rakyat dan mengagungkan demokrasi, tetapi pada saat rakyat membutuhkan bantuan “hanya untuk sekedar bertahan hidup saja” tidak langsung diselesaikan, dimana pemimpin dan wakil rakyat itu? Di tengah penderitaan rakyat, mereka dengan asyik berfoya-foya seakan-akan tidak terjadi apa-apa dengan rakyat. Mereka tetap bisa ke kantor dengan mobil mewah dengan iring-iringan pengawal dan tiap hari makan dengan uang tunjangan. Yang menyedihkan lagi, begitu ada bencana dan musibah itu disorot media, para korban menjadi ajang kepentingan politik. Ramai-ramai mereka berlomba-lomba membantu. Tapi kalau tidak disorot, mereka tak mau menjangkau. Di mana fungsi negara untuk melayani rakyat?
Negeri ini sebenarnya mampu untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya dengan baik, karena terbukti kita dapat melakukan swasembada beras pada tahun 1980-an. Negeri ini memiliki sumberdaya alam yang melimpah dan ditambah dengan bibit unggul yang dihasilkan, pupuk, dan teknologi yang ada. Tinggal bagaimana keseriusan pemerintah dalam mengelolanya. Produksi padi pada tahun 2006 ditaksir sekitar 54 juta ton (BPS: Indikator kunci Indonesia, 2007). Jika saja ini didistribusikan secara baik kepada sekitar 230 juta penduduk Indonesia, dan dengan asumsi susut 10% dalam pengolahan dari padi ke beras, maka setiap orang akan memperoleh 580 gram beras/hari. Ini belum ditambah lagi dengan stok impor beras yang dilakukan BULOG sebesar 1,5 juta ton dari Vietnam dan Thailand. Jadi jumlah beras menjadi lebih banyak lagi. Namun, ternyata banyak terjadi kasus kelaparan dan gizi buruk terjadi. Di Makassar, seorang ibu yang sedang hamil 7 bulan dan anaknya berusia 5 tahun meninggal karena kelaparan (Metro TV, 1/3/08).
Bila ini terus berlanjut, rakyat akan makin menderita. Nasi aking pun menjadi makanan sehari-hari warga miskin finansial yang pada umumnya tidak tahu harus berbuat apa karena memang memiliki ilmu pengetahuan dan kreatifitas yang rendah untuk bisa keluar dari jebakan setan yang mereka hadapi. Mereka harus bergantung pada diri sendiri, tak ada yang melindungi. Kalau sudah begitu, yang kuat akan menang, yang lemah akan terlindas. Ini sama saja dengan hidup di dalam hutan. Sepertinya negeri ini mengalami krisis kepemimpinan.
Coba kita menengok sejarah ke-Khilafahan Islam pada zaman khalifah (pemimpin) Umar. Ketika beliau melihat penderitaan rakyatnya yang kelaparan saat Am Ramadah (tahun kemarau). Dalam Sunan al-Baihaqi, dinyatakan bahwa Umar telah menggelontorkan dana untuk rakyatnya yang terkena dampak kekeringan sampai hujan turun, dan mereka tidak mengalami masalah akibat kekeringan sampai hujan turun, dan mereka tidak mengalami masalah akibat kekeringan. Umar juga mengunjungi mereka dengan menunggang kuda untuk melihat kondisi mereka. Saat menyaksikan mereka, beliau pun tak kuasa menahan tangis. Tatkala mereka memuji Umar, beliau pun mengatakan, “Celakalah kamu, pujian itu pantas Anda lakukan kalau aku mengeluarkan dana dari hartaku atau harta al-khaththab. Tetapi aku hanya mengeluarkan dari harta Allah.” (HR. Baihaqi, Juz VI, hal 357).
Perubahan mendasar akan terjadi manakala negeri ini berani meninggalkan sistem kapitalisme dan demokrasi yang kufur yang sedang bercokol saat ini, tanpa itu mustahil akan terjadi. Kembali kita lihat, bagaimana seorang pemimpin negara Islam (Khalifah) Umar dalam mengatasi kelaparan yang semata-mata tulus karena Allah swt tanpa mengharapkan pamrih (penilaian dari rakyat), karena begitulah sikap seorang pemimpin yang harus mengetahui kondisi rakyat yang dipimpinnya. Seorang pemimpin tidak akan tenang jika ada warganya di suatu daerah yang dipimpinnya ada yang menahan perih di perutnya dan menangis karena belum makan. Kepemimpinan seperti ini dapat terwujud tidak hanya dari keshalihan dan kemampuan dari pemimpinnya dalam menjalankan roda pemerintahan berdasarkan al-Qurán dan as-Sunah, tetapi juga harus ditunjang dengan adanya sistem yang baik dalam menjalankan negara tersebut, dalam hal ini adalah sistem Islam.
Seandainya saja Pemerintah mau mengeluarkan dana sampai ratusan triliunan, seperti yang dilakukan untuk mengatasi kasus BLBI, dalam mengatasi kelaparan dan gizi buruk yang melanda di negeri ini, mungkin hal ini dapat teratasi; Bukankah tugas negara untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduknya, seperti pangan, sandang, dan papan?. Seandainya saja pemimpin baik di pusat maupun di daerah terjun langsung ke masyarakat melihat kondisi rakyatnya sampai ke pelosok, mungkin tak akan ada lagi masalah kesulitan akses pangan yang dialami rakyat. Seandainya saja para wakil rakyat mau terjun ke daerahnya dan menyampaikan aspirasi masyarakat di daerahnya kepada pemerintah tentang kondisi pembangunan ekonomi yang terjadi, mungkin tidak akan terjadi daerah-daerah tertinggal dan miskin.
Dalam sistem Islam, DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) dalam Islam disebut dengan Majelis Ummah. Majelis Ummah berfungsi menyampaikan aspirasi dan kritik rakyat di daerahnya kepada pemerintah, bukan berfungsi untuk membuat undang-undang (UU) seperti yang ada dalam sistem demokrasi. Buat apa wakil rakyat dipilih kalau hanya untuk membuat UU saja. Demokrasi dan kebebasan yang diagungkan sejak era reformasi ternyata tidak banyak memberikan perbaikan nasib yang berarti, apalagi berkah kepada rakyat negeri ini. Berbagai UU seperti UU Migas, UU Sumber Daya Air, dan UU Penanaman Modal dibuat justru untuk memberi kepastian hukum bagi para konglomerat dan kapitalis asing untuk mengeruk sumberdaya alam di negeri ini. UU ini sepertinya hanya merupakan pesanan asing yang menjarah negeri ini secara legal.
UU politik dan UU pemerintahan daerah juga dibuat sedemikian rupa sehingga ranah politik dapat dijadikan bisnis dengan tingkat pengembalian modal tercepat di dunia. Dan ini bertolak belakang dengan arti politik sesungguhnya dalam Islam, yaitu bagaimana mengurusi dan memelihara urusan umat. Jadi bukan mengurus urusan perutnya sendiri, kelompoknya, atau kepentingan partainya, tetapi yang harus diurusi adalah kepentingan rakyat banyak. Pernahkah para pemimpin, anggota dewan baik pusat maupun daerah merasakan makan nasi aking sebagai menu makan siang dan malamnya? Marilah kita berempati kepada kondisi rakyat sesama kita di negeri ini, bantulah mereka sesuai dengan tugas dan janjimu dahulu. Mereka makan nasi aking hanya untuk menyambung hidup agar bisa bertahan mengarungi kerasnya hidup di negeri Kapitalis-sekuler ini. Ini baru satu kasus tentang kelaparan yang terjadi di negeri kapitalis-sekuler, belum kasus-kasus yang lain.
Akhirnya, kita perlu merenung kembali. Apa yang salah dari negeri ini? Presiden sudah berganti beberapa kali. Toh, tak ada impian yang jadi kenyataan. Jangan-jangan memang sistem yang diberlakukan di negeri inilah yang menjadikan siapa saja yang ada di dalamnya rusak. Kalau ini benar, saatnya kita berubah. Sosialis sudah pernah, dan gagal. Kapitalis-sekuler rasanya kayak sekarang, menyedihkan dan menyengsarakan. Mengapa tidak berganti kepada Islam? Ini yang belum pernah dicoba dan dibuktikan. Wallahu álam bi ash-shawab.
Surat Ultimatum Khalifah Abu Bakar r.a. Kepada Golongan Murtad March 27, 2008
Posted by atusi in : Hikmah , 1 comment so farKelompok Musailamah Al Kaddzab yang telah memproklamirkan kemurtadan mereka pada masa Rasulullah SAW menemukan momen-tumnya di masa Khalifah Abu Bakar r.a. Sebab dengan wafatnya baginda Rasulul-lah SAW muncul pikiran-pikiran dan usaha-usaha untuk melepaskan diri dari ketaatan dan kewajiban syar’i kepada Negara. Sebut saja misalnya muncul pemberontakan kaum yang menolak membayar zakat. Muncul nabi-nabi palsu lain seperti Syajah At Tamimiyah dan Tulaihah bin Khuwailid. Musailamah sendiri didukung oleh sekitar 41 ribu orang dari kalangan Bani Hanafiyah.
Melihat situasi yang begitu genting dan api pemberontakan yang begitu meluas, Khalifah Abu Bakar as Shiddiq cepat mengambil keputusan untuk melakukan tindakan tegas kepada para pemberontak dari kalangan murtad dan yang menolak membayar zakat. Untuk itu beliau r.a. mengirim 11 pasukan dan melantik 11 orang panglima pasukannya sebagai berikut:
(1) Khalid bin Walid bertugas menumpas kelompok Thulaihah bin Khuwailid
(2) Ikrimah bin Abu Jahal bertugas menumpas kelompok Musai-lamah.
(3) Syurahbil bin Hasanah bertugas mengikuti pasukan Ikrimah menuju Musailamah.
(4) Muhajir bin Abi Umayah ber-tugas untuk menumpas kelom-pok Al Ansy dan membantu penguasa Yaman untuk menun-dukkan Qais bin Maksyuh.
(5) Khalid bin Said bin al Ash bertugas menjaga perbatasan kota Syam.
(6) Amru bin Al Ash bertugas ke daerah Jumaa’
(7) Hudzaifah bin Mihshan bertugas menumpas penduduk Daba.
(8) Arfajah bin Hartsamah bertugas ke Mahrah
(9) Thuraifah bin Hajiz bertugas ke Bani Sulaim dan Suku Hawaz
(10) Suwaid bin Muqran bertugas ke Tihamah Yaman
(11) Al Ala’ bin al Hadrami bertugas ke Bahrain.
Kesebelas panglima tersebut dibekali surat ultimatum khalifah kepada para pemberontak yang isinya adalah:
Bismillahirrahmanirrahim
Dari Abu Bakar Khalifah Rasulullah,
Kepada orang-orang yang menerima surat ini secara umum maupun khusus, baik yang tetap di atas keislamannya maupun yang telah murtad dari Islam.
Keselamatanlah bagi yang mengikuti petunjuk, tidak kembali kepada kese-satan dan hawa nafsu. Sesungguhnya aku memuji Allah kepada kalian, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi Muhammad adalah hamba Allah utusan-Nya. Kami mengakui syariat yang dibawanya, mengkafirkan orang yang enggan menerima syariatnyadan akan memerangi mereka.
Amma ba’du,
Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad dengan kebenaran yang ada di sisi-Nya kepada seluruh manusia dengan membawa berita gembira dan ancaman, datang menyeru manusia dengan izin-Nya, beliau ibarat lentera penyuluh yang membawa berita yang menakutkan bagi orang yang hidup dan akan menetapkan hukuman terhadap orang-orang yang kafir.
Sesungguhnya Allah memberikan petunjuk kepada siapa-siapa yang mengikutinya, sebaliknya Rasulullah SAW akan memerangi siapa saja yang berpaling dari agama ini hingga akhir-nya mereka masuk Islam baik secara suka rela maupun terpaksa.
Kemudian Rasulullah wafat dan beliau telah menjalankan seluruh perintah Allah, menasihati umatnya, menunaikan seluruh beban yang dipi-kulnya.
Allah menerangkan dalam kitab-Nya yang diturunkan kepada Rasulullah untuk seluruh kaum muslimin dengan firman-Nya:
“Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (QS. Az Zumar: 30)
Allah juga berfirman:
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); Maka Jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al Anbiya’ :34)
Demikian pula firmanNya:
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh Telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul[234]. apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (QS. Ali Imran 144).
Disini aku wasiatkan kepada kalian agar selalu bertaqwa kepada Allah, niscaya ganjaran kalian akan kalian dapatkan dari Allah dan dari apa-apa yang telah dibawa oleh Nabi kalian. Hendaknya kalian berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullah dan agama Allah, sesungguhnya siapa saja yang tidak diberi petunjuk oleh Allah pasti akan tersesesat, dan siapa yang tidak ditolong oleh Allah pasti akan dihinakan. Dan siapa saja yang diberi petunjuk oleh selain Allah maka dia akan tersesat. Allah SWT berfirman:
“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang dise-satkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepa-danya.” (QS. Al Kahfi 17).
Allah tidak akan menerima amal apapun di dunia hingga orang yang beramal beriman kepada-Nya. Dan di Akhirat kelak Dia tidak menerima tebusan maupun suapan.
Telah sampai kepadaku berita bahwa di antara kalian ada sekelompok orang yang akan kembali murtad kepada agama lamanya setelah dia mengakui Islam dan mengamalkannya, karena merasa sombong terhadap Allah, jahil terhadap perintah-Nya, dank arena mengikuti ajakan setan. Allah ber-firman:
“Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, Maka sujudlah mereka kecuali iblis. dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (QS. AL Kahfi 50).
Allah berfirman:
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), Karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu Hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir 6).
Sesungguhnya aku mengutus kepada kalian panglima-panglimaku dengan pasukan yang terdiri dari kaum Muha-jirin, Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Aku telah perintahkan agar mereka tidak menerima dari kalian kecuali iman kepada Allah, dan tidak memerangi kalian hingga mereka mengajak kalian kepada Allah Azza wa Jalla. Jika orang yang diseru tersebut memenuhi seruan utusanku ini dan mengakui serta beramal salih, maka itulah yang diharapkan darinya dan dia akan dibantu, tapi jika orang yang diajak itu menolak maka hendaklah dia diperangi hingga ia mau kembali kepada syariat Allah.
Aku pesankan kepada utusanku agar tidak menyisakan mereka sedikitpun, hendaklah mereka dibakar dengan api, dan dibunuh sebenar-benarnya. Kemu-dian menawan para wanita dan anak-anak mereka, jangan diterima dari seorang pun kecuali kembali kepada Islam. Siapa saja yang mengikuti ajakan para utusan itu kebih baik baginya. Tapi siapa saja yang tidak mengindahkan ajakan mereka maka sesungguhnya ia tidak melemahkan Allah. Aku telah perintahkan utusanku untuk memba-cakan surat ultimatum ini di tempat-tempat berkumpul kalian.
Tanda-tanda keIslaman kalian adalah dikumandangkannya adzan, maka jika adzan dikumandangkan, mereka tidak akan diperangi, namun jika mereka tidak mengumandangkan adzan maka mereka akan diserang dengan segera.
Aku pesankan kepada utusanku jika mendengar mereka mengumandangkan adzan, sampaikanlah kepada mereka kewajiban sebagai orang mukmin, tetapi jika mereka menolak maka perangilah mereka. Sebaliknya jika mereka mene-rima itulah yang terbaik buat mereka dan mereka akan diperlakukan sebagai-mana mestinya.
Dengan surat ultimatum khalifah tersebut para panglima bisa mengatasi pemberontakan kaum murtadin. Seba-gian mereka seperti Tulaihah kembali kepada Islam dan sebagian yang lain seperti Musailamah tewas terbunuh. Selanjutnya seluruh pengikut mereka yang masih hidup kembali ke pangkuan Islam.
Jelaslah bahwa Islam memiliki system penanganan yang efektif terhadap orang yang murtad. Jika mereka sendiri atau hanya beberapa orang, maka setelah diminta bertaubat dan tidak mau kembali, orang-orang itu dihukum mati. Jika mereka adalah kaum yang jumlahnya banyak dan memiliki kekuatan untuk memberontak, maka setelah diminta kembali tapi menolak, mereka diperangi. Dengan demikian kemuliaan dan kemurnian Islam akan tetap terjaga. Menjaga kemuliaan dan kemurnian Islam merupakan tanggung jawab penguasa muslim dimanapun dan kapanpun.
Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq.
Muhammad Al Khaththath
Perdebatan di Saqifah Bani Sa’adah March 27, 2008
Posted by atusi in : Hikmah , 2 commentsSuara-islam.com–Wafatnya Rasulullah merupakan batu ujian bagi kaum mus-limin: apakah mereka umat yang kuat, solid, dan mandiri ataukah mereka umat yang lemah dan bubar lantaran ditinggal Nabi? Sebab Rasulullah saw. bukan saja simbol pemersatu, tapi sekaligus pemimpin riil yang selalu membimbing dan memberikan inspirasi kepada umat ini secara langsung dalam seluruh kehidupan beliau, baik ucapan beliau, perbuatan beliau, maupun per-setujuan beliau atas sikap dan tindakan salah seorang dari mereka di hadapan beliau. Tidak ada pemimpin yang begitu sangat kuat kesan dan pengaruhnya kepada rakyatnya kecuali beliau. Maka kepergian beliau jelas merupakan pukul-an yang besar sekaligus ujian bagi umat dan Negara yang baru muncul tersebut.
Sejarawan Ibnu Ishaq mengisahkan bahwa begitu Rasululullah SAW wafat, Umar bin al Khaththab mendengar kabar bahwa kaum Muhajirin berkumpul di Saqifah Bani Saidah untuk membahas siapa yang akan menggantikan kepemim-pinan Rasulullah. Umar langsung meng-ajak Abu Bakar dan Abu Ubaidah bin al Jarrah untuk mendatangi mereka.
Sesampai di sana ternyata kabar tersebut benar. Orang-orang Anshar telah berkumpul. Salah seorang dari mereka, yakni Saad bin Ubadah berpidato: “Amma ba’du. Kami Ansharullah dan tentara Islam. Sedangkan kalian wahai kaum Muhajirin adalah keluarga besar kami. Kalian terusir dari kaum kalian. Apabila mereka (Muhajirin) hendak lepas dari kami (Anshar) merampas masalah (ke-kuasaan) kami”.
Ketika itu Umar ingin menanggapi pidato Sa’ad dan telah merangkai kata-kata dalam pikirannya tapi dia tahan karena berfikir bahwa Abu Bakar pasti akan menanggapinya dengan tanggapan yang lebih baik. Benar. Semua rangkaian kata yang telah dipersiapkan Umar telah disampaikan oleh Abu Bakar dengan susunan yang lebih baik dan lebih menyentuh sehingga membuat Saad diam.
Abu Bakar berkata: “Apa yang kalian sebutkan tentang kebaikan kalian adalah hak kalian. Semua orang Arab tidak mengingkari hal ini kecuali orang-orang Quraisy. Sebab mereka mempunyai na-sab keturunan yang terbaik di antara orang-orang Arab”
Lalu sambil memegang tangan Umar dan Abu Ubaidah, Abu Bakar berseru: “ Oleh karena itu, bila kalian rela memilih di antara kedua orang ini, maka baiatlah salah satu dari keduanya!”
Namun salah seorang di antara orang Anshar ada yang berteriak: ”Wahai orang-orang Quraisy, kamilah yang menjadi tempat berlindung Rasulullah dan melindungi kemuliannya. Kalau begitu begini saja, kami punya amir dan kalian punya amir sendiri”.
Pernyataan tersebut menyulut kega-duhan di antara para hadirin. At Thabari meriwayatkan bahwa dalam situasi kritis itu Abu Ubaidah bin Al Jarrah menyam-paikan kata-kata bijak yang menyentuh hati kaum Anshar. Abu Ubaidah berkata: “Wahai kaum Anshar, kalian adalah orang-orang yang pertama kali menjadi pelindung dan penolong (Nabi dan agamanya). Janganlah kemudian kalian menjadi orang-orang yang pertama kali berubah dan berpaling”.
Basyir bin Saad, salah seorang pemim-pin Anshar dari kaum Khazraj berkata: “Demi Allah, kita sekalipun yang paling utama dalam memerangi orang-orang musyrik dan paling dahulu memeluk agama Islam ini, tidak ada yang kita inginkan selain ridlo Allah dan ketaatan kepada Nabi kita serta menekan kepen-tingan pribadi kita. Maka tidak pantas kita memperbelit-belit urusan ini terha-dap yang lain. Dan seyogyanya kita tidak memiliki orientasi duniawi sama sekali. Karena dalam hal ini sebenarnya Allah telah memberikan kenikmatan kepada kita. Ingatlah bahwa Muham-mad adalah dari keturunan Quraisy dan dalam hal ini kaumnyalah yang lebih berhak dan lebih utama. Demi Allah, Allah tidak akan melihat selama-lama-nya kepada para perebut kekuasaan mereka dalam urusan ini. Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan janganlah kalian menentang serta mengambil kepemimpinan dari mereka”.
Kata-kata Basyir inilah yang mene-duhkan dan karena kata-kata itulah orang-orang Khazraj menjadi tenang.
Ketika itu Abu Bakar yang duduk di antara Umar dan Abu Ubaidah segera memegang tangan tokoh sahabat Muha-jirin itu. Abu Bakar berkata: “Ini Umar dan ini Abu Ubaidah, siapa di antara mereka berdua yang kalian kehendaki, maka baiatlah!”. Lalu Abu Bakar meng-ajak mereka bersatu dan mengingatkan mereka dari perpecahan.
Demi melihat tidak ada jawaban spontan dan melihat gelagat yang meng-khawatirkan, Umar segera berseru lan-tang:“Hai Abu Bakar, ulurkanlah tanganmu!”.
Abu Bakar lalu mengulurkan tangan-nya dan Umar segera membaiatnya dengan menyebut-nyebut keutamaannya. Demikian pula Abu Ubaidah membaiat Abu Bakar dengan menyebut-nyebut keutamaannya. Langkah mereka diikuti oleh tokoh kaum Khazraj, Basyir bin Saad dan tokoh kaum Aus, Usaid bin Hudlair. Selanjutnya ruang Saqifah itu penuh sesak oleh orang-orang yang membaiat Abu Bakar sebagai khalifah, amirul mukminin, pengganti Rasululullah seba-gai pemimpin dan penguasa atas kaum muslimin, bukan sebagai pengganti beliau dalam kedudukan sebagai Nabi dan Rasul Allah SWT.
Hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa yang terjadi di Saqifah Bani Sa’idah itu antara lain sebagai berikut:
Pertama, mengangkat seorang kha-lifah sebagai pengganti Rasululullah dalam memerintah negara dan memim-pin kaum muslimin. Bahkan begitu wajibnya sampai-sampai para sahabat menunda penguburan jenazah Rasulullah SAW sampai terpilih dan terbaiatnya khalifah Abu Bakar.
Kedua, tidak benar orang yang mengatakan bahwa sistem pemerintahan Islam itu tidak jelas dengan bukti bahwa Rasulullah SAW tidak menunjuk siapa pengganti beliau. Justru pernyataan dan perbuatan Rasulullah SAW dalam me-mimpin pemerintahan selama 10 tahun di kota Madinah dengan luas wilayah meliputi seluruh jazirah (sekarang meru-pakan 7 negara). Bukankah Rasulullah SAW bersabda:
“Pemerintahan Bani Israil dahulu selalu diurus oleh para Nabi, setiap seorang nabi wafat, diganti dengan nabi yang lain, sesungguhnya setelahku tidak ada nabi lagi, yang ada adalah para khalifah yang banyak”. Para sahabat bertanya, apa yang engkau perintahkan kepada kami? Maka Rasulullah saw, bersabda: “Penuhilah baiat yang per-tama, berikanlah hak mereka kepada mereka karena sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas pemerintahan yang dise-rahkan kepada mereka”. (Sahih Bukhari Juz XI/271).
Ketiga, musyawarah bahkan perde-batan untuk memilih siapa yang terbaik untuk menjadi khalifah yang akan meng-emban tugas kekhilafahan, yakni menja-lankan pemerintahan kaum muslimin dengan tugas yang sangat berat, yakni menerapkan syariat Islam di dalam negeri secara kaffah dan mengemban dakwah ke seluruh dunia, adalah sesuatu yang dibolehkan. Sebab jabatan itu adalah amanat yang harus diberikan kepada yang berhak, yakni orang yang paling mampu untuk menjalankan amanat itu. Sebab bila tidak dilaksanakan oleh yang paling baik, paling taqwa, dan paling punya kapasitas menjalankan pemerintahan Islam, maka urusan agama dan umat Islam akan menjadi tersia-sia.
Keempat, persatuan dan kesatuan umat Islam harus diutamakan daripada ambisi pribadi maupun kelompok. Per-nyataan salah seorang Anshar agar ada pemimpin (amir) dari Anshar dan amir dari Muhajirin ditolak. Sebab ide tersebut akan membuat negara kaum muslimin langsung terpecah menjadi dua, yakni Negara kaum Anshar dan Negara kaum Muhajirin. Ini tentu tidak boleh. Inilah prinsip negara kesatuan seperti diajarkan Rasulullah SAW,. Beliau bersabda:
“Jika dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah yang kedua” (Sahih Muslim Juz IX/398).
Kelima, mengalah dalam rebutan jabatan lebih baik terlebih bila melihat ada orang lain yang lebih utama. Apa yang disampaikan Basyir bin Saad sungguh meredam keinginan kaumnya untuk meraih jabatan khalifah pengganti Rasulullah karena melihat kaum Quraisy, kaum dimana Rasul berasal, jelas memiliki keutamaan di jazirah Arab dibandingkan kaum-kaum yang lain. Dan struktur masyarakat yang beragam secara alami akan memberikan peluang stabilitas yang lebih kuat bila pemerintahan di tangan Quraisy dibandingkan bila di tangan yang lain. Penyelesaian pemberontakan kaum murtad dan penolak pembayar zakat dengan cara yang seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, tidak sampai dua tahun dalam masa pemerintahan khalifah Abu Bakar menunjukkan bahwa pilihan kaum muslimin generasi pertama tepat.
Bila tidak terjadi perdebatan di Saqifah Bani Saidah yang mengantarkan Abu Bakar r.a. pada jabatan Khilafah, boleh jadi Negara Islam yang pertama itu berantakan sejak hari pertama wafatnya Rasulullah SAW dan bubar, dan konsekwensinya tidak ada khilafah Islamiyah yang berjaya sampai lebih dari sepuluh abad yang kekuasaan dan pengaruhnya membentang dari Spanyol (Andalusia) hingga ke Asia tenggara, dan Islam tidak tersebar ke seluruh dunia. Wallahua’lam! [Muhammad al Khaththath/www.suara-islam.com]












